Sen. Jan 17th, 2022

WARTAKADIN

Kabupaten Bekasi

Dosen UNNES Latih Ibu-Ibu Buat Nugget Lele Guna Tingkatkan Gizi Masyarakat

2 min read

Semarang, wartakadin. Fakultas Tehnik UNNES Jurusan PKK Prodi Pendidikan Tata Boga, belum lama ini telah memberikan pelatihan keterampilan membuat makanan bergizi yang berbahan dasar ikan lele, diantaranya cara membuat nugget lele.

Kegiatan ini terlaksana yang difasilitasi LP2M UNNES, dan diketuai Dr. Sus Widayani, MSi dibantu dua dosen dari Fakultas Teknik Muhammad Ansori, S.T.P., M.T. dan Meddiati Fajri Putri, S.Pd., M.Sc. dan Mardiana, M.Si., dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat yang memilih ibu-ibu warga desa Berahan Kecamatan Wedung Kabupaten Demak Jawa Tengah, mengingat kondisi masyarakat sedang terpuruk terdampak Pandemi Covid -19, diberikan bekal keterampilan cara membuat nugget lele

Sus Widayani sampaikan, bahwa kegiatan melatih cara pembuatan nugget lele kepada ibu-ibu ini sebagai program pengabdian kepada masyarakat dengan harapan mereka dapat memproduksi nugget dan bisa dijual untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Ataupun dapat diberikan kepada anak- anak balitanya sebagai makanan tambahan yang berprotein tinggi.

Ternyata, nugget ikan lele memiliki kandungan gizi protein lebih tinggi dari telur, daging ayam maupun daging ternak lainnya. Disisi lain anak-anak sangat menyukai pangan olahan seperti nugget “Mengapa tidak diolah menjadi jenis makanan yang lebih menarik seperti berbentuk nugget yang sangat digemari anak- anak hingga orang dewasa,” tutur Sus Widayani kepada wartakadin.com yang ditemui kampus UNNES.

Ada lima jenis Nugget lele yang menjadi produk untuk dijual, seperti Nugget Ori memiliki kandungan protein 28,463 persen. Nugget Wortel 20,023 persen. Nugget Jamur 20,213 persen. Nugget Brokoli 24,509 persen. Dan Nugget Kacang merah 27,887 persen, berdasarkan sertifikat pengujian tertanggal 6 Agustus 2021 di Laboratorium Biologi MIPA UNNES.

Latar belakang kegiatan ini disampaikan, terinspirasi kegiatan riset di Tahun 2012 ketika menggali data konsumsi anak balita, ternyata ikan sangat tidak disukai anak balita namun ibu balita seringkali belanja ikan lele dan lele goreng sering kali hadir dalam menu makan harian. Ikan lele yang memiliki kandungan gizi tinggi tetapi anak bosan dan bahkan tidak menyukainya karena pengolahannya yang tidak bervariatif. Hingga untuk merangsang minat anak, perlu dimasak yang menarik seperti nugget.

Sedangkan lele sering hadir dalam menu harian, tetapi pengolahannya tidak variatif menjadikan anak kurang menyukai ikan lele. “Baru sekitar 25 persen ikan dikonsumsi anak-anak Indonesia,” tuturnya.

“Kecenderungan anak-anak sangat menyukai olahan makanan seperti nugget.untuk mendorong masyarakat agar menyukai ikan sebagai lauk pauk, atau diolah menjadi jenis makanan yang menarik,” tambahnya.

“Juga di masa Pandemi Covid -19 perlu adanya kegiatan yang mendorong masyarakat untuk bangkit meningkatkan pendapatannya. Salah satunya, melalui kegiatan pelatihan membuat nugget lele yang selanjutnya mereka bisa berproduksi dan menjualnya. Dan kegiatan ini perlu dukungan Pemerintah melalui program peningkatan gizi dengan kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan),” untuk mendukung program nasional penanganan stunting di Indonesia,” demikian harapan Sus Widayani.

Adapun kegiatan pelatihan membuat nugget oleh Sus Widayani dikatakan, dibiayai dari DIPA UNNES yang akan terus berkelanjutan.

Sedangkan Sus Widayani selaku ketua program kegiatan pelatihan ini sudah tidak diragukan lagi karena memiliki pengalaman menjadi dosen selama 20 tahun dan menjadi PNS sejak tahun 1992 di Bandung. Pindah ke Semarang karena mengikuti suami yang bertugas di kota lounpia ini. Sriyanto

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *