Mon. Oct 26th, 2020

WARTAKADIN

Kabupaten Bekasi

Founder Jababeka: Pemindahan Ibu Kota Ide Brilian Jokowi

2 min read

Pada tanggal 26 Agustus 2019 lalu secara resmi Presiden Jokowi mengumumkan lokasi pasti Ibu Kota Baru Indonesia. Presiden dan jajaran menteri resmi mengumumkan bahwa Ibu Kota Baru akan pindah ke provinsi Kalimantan Timur, tepatnya berada di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Baca juga: Mengenal Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara Calon Ibu Kota Baru

Meski wacana pemindahan ibukota sudah muncul sejak era Soekarno, tetap saja pengumuman yang disampaikan Presiden Jokowi menimbulkan pro dan kontra. S.D. Darmono salah satu tokoh industri yang punya visi membangun 100 kota baru di Indonesia menyambut baik rencana pemindahan ibukota. Founder dan Komisaris PT Jababeka & Co. ini bahkan menyebut rencana Presiden Joko Widodo memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur merupakan ide brilian.

Untuk itu, Jababeka sesuai visinya menyatakan siap jika diminta untuk membantu menggarap ibu kota baru. “Sekarang pun kalau Jababeka dipanggil Presiden, kami sudah siap dengan pengalaman selama 37 tahun membangun kota,” kata founder President University ini.

Baca juga: S.D. Darmono Sosok Sederhana Dengan Pemikiran Menembus Batas

Jababeka sebagai pengembang kota sudah membangun kota di beberapa wilayah di Indonesia. Dimulai dari mengembangkan Kota Jababeka di Cikarang Jawa Barat, kemudian Tanjung Lesung di Banten, Morotai di Maluku Utara dan Kawasan Industri Kendal di Jawa Tengah.

Pemindahan ibu kota menurut S.D. Darmono akan mendorong pemerataan dan pertumbuhan ekonomi ke depan. “Apa yang diusulkan Pak Jokowi soal pemindahan ibu kota ini sungguh brilian. Karena sekarang Indonesia pertumbuhan ekonominya hanya 5,2%, tapi Presiden kan inginnya naik sekitar 7% sampai 9%,” ujarnya.

S.D. Darmono menyebutkan Jababeka merupakan salah satu perusahaan yang menjadi aset nasional bagi pemerintah, karena membangun kawasan-kawasan industri, membuka lapangan kerja seperti layaknya BUMN, dan sangat peduli dengan pertumbuhan ekonomi nasional. “Misalnya di Cikarang, dari yang tidak ada apa-apa menjadi satu juta penduduk sekarang, dan GDP-nya US$35 miliar.”

Untuk itu pemidahan ibu kota menurut S.D. Darmono bisa belajar pada pemerintah Jepang di era 1970-1980-an. Saat itu, Perdana Menteri Jepang menawarkan kepada para gubernurnya untuk mengembangkan kota-kota baru. Tujuannya adalah untuk menemukan formulasi mengenai pola pengembangan apa yang bisa mereka lakukan di kotanya masing-masing, sesuai industri yang potensial dikembangkan di masing-masing kota tersebut.

“Untuk suatu proyek semacam pembangunan kota baru, yang bisa menumbuhkan perekonomian jauh di atas average-nya pertumbuhan ekonomi Jepang,” ungkapnya.

S.D. Darmono menceritakan, setelah melakukan studi ke banyak negara di dunia, akhirnya terpilihlah sembilan orang gubernur dengan proposal yang dinilai paling inovatif dan visioner, bagi upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi Jepang.

“Kemudian jadilah Tsukuba, kota riset dan kota energi, Nigata, yang mampu memproduksi diesel melawan GE dan yang hebat-hebat lainnya. Lalu ada juga Nagasaki yang akhirnya dibikin kota pariwisata yang sangat hebat sekali,” tutur S.D. Darmono. Jadi langkah Presiden Jokowi ini akan memacu para bupati dan gubernur untuk menciptakan pola serupa sesuai potensi daerahnya masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *