Thu. Oct 22nd, 2020

WARTAKADIN

Kabupaten Bekasi

Kadin Dorong Pemerintah dan Pengusaha Investasi di Industri Methanol

2 min read

Kadin Indonesia dorong investasi di sektor industri hulu petrokimia yang dinilai masih minim. Pasalnya, dalam kurun waktu hampir 20 tahun terakhir minimnya investasi telah berdampak pada minimnya suplai bahan baku industri hulu petrokimia dalam negeri yang saat ini mencapai 5,6 juta ton per tahun. Dengan kapasitas produksi dalam negeri yang baru mencapai 2,45 juta ton (47%), maka produk dalam negeri belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan metanol dalam negeri, sehingga menyebabkan adanya ketergantungan impor dari luar negeri yang jumlahnya mencapai 53%.

“Salah satu produk industri hulu petrokimia yang memiliki ketergantungan tinggi pada impor adalah methanol,” ungkap Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian Johnny Darmawan di sela-sela Focus Group Discussion Kadin Bidang Industri yang dihelat di Mara Kadin Indonesia (19/8/2019).

Baca juga : KADIN Gelar FGD “Mendorong Pertumbuhan Industri Kimia Berbasis Methanol”

Seperti diketahui, methanol merupakan bahan kimia dasar yang banyak digunakan dalam berbagai industri sebagai senyawa intermediete yang menjadi bahan baku berbagai industri antara lain industri asam asetat, formaldehid, Methyl Tertier Buthyl Eter (MTBE), polyvinyl, polyester, rubber, resin sintetis, farmasi, Dimethyl Ether (DME), dan lain sebagainya. Kadin mencatat, nilai yang diimpor mencapai 12 miliar US$/tahun atau setara Rp 174 triliun. Di Indonesia, 80% pembeli methanol adalah industri formaldehid yang menghasilkan adhesives untuk plywood dan industri wood processing lainnya.

Johnny mengatakan, methanol selain sebagai bahan baku industri kimia hilir, juga diproyeksikan sebagai bahan bakar alternatif masa depan karena memiliki bilangan oktan yang tinggi dengan pembakaran yang lebih sempurna sehingga gas karbon monoksida sebagai hasil samping reaksi utama yang dihasilkan semakin sedikit.

Di sisi lain, kebutuhan methanol di Indonesia tiap tahunnya terus meningkat. Tahun 2021 diprediksi mencapai 900 ribu ton per tahun, sedangkan kemampuan mensuplai dari produksi dalam negeri hanya sebesar 350 ribu ton/ tahun.

“Ini tantangan bagi semua pihak (pemerintah dan pelaku usaha) karena apabila produk methanol tidak dibenahi dari sekarang maka industri kimia hilir tidak menjadi Sustainable Industry dan sulit bersaing,” terang Johnny.

Dia menjelaskan, konsep pengembangan sektor industri hulu petrokimia telah tertuang dalam RIPIN 2015-2035 dan untuk melaksanakannya Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, tetapi semua pihak yang terlibat harus bersinergi diantaranya para pelaku usaha, Kementerian terkait, Pemerintah daerah dan konsumen.

“Pendirian pabrik methanol sangat menjanjikan dan strategis dalam mendukung Sustainable Industry di Indonesia dalam jangka Panjang. Saat ini adalah momentum yang tepat bagi pelaku usaha untuk mendorong pemerintah mengembangkan pabrik methanol, yakni melalui pengembangan industri dan kawasan industri hulu petrokimia di sekitar kawasan yang memiliki potensi gas yang banyak seperti di Teluk Bintuni dan Blok Masela,” pungkasnya.

Sumber : kadin.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *