KIK'
Mon. Apr 6th, 2020

WARTAKADIN

Kabupaten Bekasi

Kawasan Industri Jababeka Paling Siap Menghadapi Industri 4.0

2 min read

Industri 4.0 mulai diperkenalkan di Jerman tahun 2011 dan di Indonesia sendiri lebih dikenal dengan sebutan “Making Indonesia 4.0” yang diluncurkan pemerintah tahun lalu. Di era ini sektor industri nasional perlu mendapat perbaikan dalam aspek penguasaan teknologi. Ada lima teknologi utama yang menjadi dasar revolusi industri 4.0 yaitu Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), teknologi robotic dan sensor, teknologi 3D printing, dan human-machine interface.

Dalam acara sharing sessions industrial transformation Asia Pacific dengan tema “Getting Ready for Industry 4.0, Where to Start?”, Rudy Subrata GM Marketing PT. Jababeka Tbk menyatakan bahwa, Jababeka merupakan kawasan industri yang paling siap menghadapi Industri 4.0 karena memiliki infrastruktur dan fasilitas paling lengkap.

“Kami punya 4 akses pintu tol, pelabuhan darat Cikarang Dry Port, aplikasi Jsmart, 2 power supply, jaringan telekomunikasi fiber optic, yang itu merupakan infrastruktur dasar industri 4.0. Dengan kelengkapan infrastrutur ini kami optimis industri 4.0 mudah diterapkan di sini dan kami siap memfasilitasi para perusahaan untuk memasuki industri 4.0,” tegas Rudy.

Baca juga: Jababeka Dorong Investasi di Jawa Barat Meningkat

Salah satu bentuk komitmen yang diberikan Jababeka dalam mempersiapkan perusahaan di Kawasan Industri Jababeka menghadapi industri 4.0 adalah dengan mengundang para pakar dan pelaku industri 4.0, yaitu Eugene Yeo, Regional Director of Enterprise Singapore dan Felius Yuseli, Business Development Manager of Auk Industries. Keduanya dihadirkan di President Executive Club Kota Jababeka (10/10/2019) untuk memberikan pencerahan kepada para pelaku usaha terkait apa saja yang dipersiapkan dalam menghadapi industri 4.0.

Dalam kesempatan tersebut Eugene Yeo menyebutkan banyak keuntungan yang didapat dari penerapan industri 4.0 sekarang dan di masa depan. Tidak hanya untuk peningkatan produktivitas, optimalisasi dan efisiensi tenaga kerja, tetapi juga kemampuan perusahaan untuk bersaing dalam merespon perubahan pasar dan konsumen.

“Untuk itu kami mengajak para pelaku usaha di Jababeka agar dapat mengikuti pameran Industrial Transformation ASIA-PACIFIC yang berlangsung di Singapura pada tanggal 22-24 Oktober 2019. Di dalam pameran tersebut akan tersajikan prototipe solusi yang mampu mengubah model bisnis menjadi model yang lebih bermanfaat sesuai dengan smart technologies platform yang masanya segera berlaku,” ungkap Eugene Yeo.

Sementara Felius Yuseli menegaskan dalam pelaksanaan industri 4.0 harus ada kolaborasi dan keterlibatan para vendor infrastruktur, seperti provider telekomunikasi yang nantinya mendorong adanya smart city hingga smart home. Namun ada tantangan dalam digitalisasi industri 4.0 yang terletak pada perubahan infrastruktur yang signifikan.

“Misalnya kita punya mesin yang umurnya tua maka akan diminta untuk updrage atau beli baru. Sehingga untuk menjadikan pabrik yang digitalisasi itu membutuhkan cosh yang besar dan prosesnya bisa 3 – 5 tahun. Untuk itu kami hadir dalam memberikan solusi melalui sistem yang siap dan mudah dipakai. Melalui sistem ini kita bisa melihat aktifitas mesin dengan detil dari kecepatan hingga prosesnya, kita dapat datanya yang kemudian ada hasil dari analisisnya. Dengan sistem yang kami tawarkan maka proses digitalisasi hanya butuh 1 – 2 tahun,” ungkap Felius.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *