Tue. Oct 27th, 2020

WARTAKADIN

Kabupaten Bekasi

Menuju 10 Besar Pasar Penerbangan Dunia, Pemerintah Bangun Ekosistem Industri Penerbangan Berkelanjutan

3 min read

Pemerintah berkomitmen untuk menciptakan ekosistem industri penerbangan tanah air yang berkelanjutan. Pasalnya, berdasarkan laporan International Air Transport Association (IATA), jumlah penumpang udara nasional akan mencapai 270 juta penumpang pada tahun 2034 atau naik lebih dari 300% dibanding 2014.

Selain itu, Indonesia diperkirakan akan masuk 10 besar pasar penerbangan dunia pada 2020, bahkan akan menjadi lima besar dunia pada 2034. Satu langkah yang diambil pemerintah adalah dengan mengembangkan pusat perawatan pesawat atau fasilitas MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul).

“Kerja sama pengembangan MRO diperlukan untuk efisiensi industri penerbangan. Kita berharap industri ini bisa lebih kompetitif dan tumbuh berkembang. Tentunya dengan tetap mampu menyediakan penerbangan nasional yang terjangkau,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dalam acara Penandatanganan Kerja Sama, Peresmian, dan Peletakan Batu Pertama Hanggar dan Fasilitas MRO di Bandar Udara Hang Nadim-Batam, Rabu (14/8).

Baca Juga: Pemerintah Tentukan Jadwal Penerbangan Murah LCC Domestik

Adapun rangkaian acara dalam kunjungan kerja Menko Perekonomian kali ini meliputi:

– Penandatanganan Kerja Sama:(1) Pengembangan MRO antara Batam Aero Technic (BAT) denganGaruda Maintenance Facility (GMF); (2) Pengembangan Pabrik Vulkanisir Ban antara BAT, GMF, dan Michelin; (3) Pusat Pendidikan dan Pelatihan Aviasi antara BAT, GMF, dan AMTO (Aircraft Maintenance Training Organization)

– Peresmian dan Pembukaan:(1) Politeknik “Kirana Angkasa”; (2) Fasilitas Bengkel Pesawat

– Peletakan Batu Pertama:(1) Pembangunan Hanggar Tahap III oleh BAT; (2) Pembangunan Hanggar Joint Venture BAT-GMF

Menko Darmin menjelaskan, kerja sama dan pembangunan pabrik vulkanisir ban pesawat dirancang untuk meningkatkan efisiensi biaya operasional. Selain itu, juga untuk mendukung industri dalam negeri dan substitusi impor, karena selama ini harus dibawa ke Thailand.

Sementara itu, kerja sama pelatihan aviasi oleh Politeknik Kirana Angkasa ditujukan untuk penyediaan SDM Aviasi yang berkualitas. Hal ini sejalan dengan program pemerintah untuk mendorong SDM, terutama Pendidikan Vokasi.

“Ini semua untuk mendukung investasi bernilaiUSD 466 Juta (atau Rp 6,3 Triliun) yang tentu akan mampu mendorong perekonomian di Batam sekaligus mendukung pengembangan industri penerbangan,” terang Menko Darmin.

Data menyebutkan, jumlah penumpang pesawat yang berangkat pada tahun 2017 adalah sebanyak 90,7 juta untuk penerbangan dalam negeri dan 16,6 juta untuk penerbangan luar negeri.

Sementara jumlah pesawat di Indonesia pada tahun 2017 tercatat sebanyak 1.030 unit, dengan rata-rata pertumbuhan industri penerbangan sebesar 10%. Sedangkan jumlah pesawat di Asia Pasifik tahun 2025 diprediksi mencapai 11.680 unit dan akan menjadi pasar industri MRO terbesar di dunia yang bernilai USD 100 Miliar.

Namun saat ini, bisnis MRO di Indonesia hanya mampu melayani 30% – 35% pasar nasional, sisanya diserap MRO asing. Ke depannya, potensi bisnis MRO nasional tahun 2020 diperkirakan senilai Rp. 26 triliun.

Menko Darmin pun menyampaikan harapannya untuk industri penerbangan,agar kerjasama antara grup Garuda dan Lion dapat terus dilanjutkan. Tidak terbatas pada Jasa MRO, tetapi juga untuk operasional penerbangan lainnya. “Dengan demikian, pemerintah berharap akan terjadi efisiensi yang signifikan di industri penerbangan sehingga penerbangan dapat makin terjangkau masyarakat,” tuturnya.

Ke depan, Pemerintah juga akan menyiapkan rencana dan program nasional yang saat ini sedang dibahas bersama seluruh stakeholder penerbangan. Hal tersebut untuk mendukung pengembangan dan menjaga keberlangsungan industri penerbangan nasional.

“Selain itu, Industri Aviasi harus bersinergi untuk peningkatan efisiensi, terutama dari komponen Pemeliharaan dan Perbaikan (MRO). Ini sangat dibutuhkan untuk mendukung peningkatan keselamatan dan mutu angkutan udara nasional kita,” pungkas Darmin Nasution.

Sebagai informasi, Batam dipilih sebagai lokasi MRO karena memiliki beberapa keunggulan. Kota ini berdekatan dengan Singapura, lokasi Original Equipment Manufacturer (OEM) yang menempatkan stock sparepart pesawat dan sebagai hub penerbangan internasional.

Kemudian, status Batam sebagai Free Trade Zone (FTZ) atau Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) dengan berbagai kemudahan bisnis dan insentif fiskal, serta tersedia lahan yang sudah disewa seluas 30 Ha.

Tak hanya itu, lokasi geografis Batam yang tidak jauh dari negara-negara Asia Tenggara & Asia Selatan juga berpotensi besar menjadi target market jasa MRO pesawat.

Hadir dalam kesempatan ini antara lain Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Duta Besar RI di Malaysia Rusdi Kirana, Plt Gubernur Kepulauan Riau Isdianto, Pimpinan DPRD Kepri, Walikota Batam Muhammad Rudi, Pimpinan Kementerian/Lembaga terkait (Kemenko Perekonomian, Kementerian Perhubungan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi), Pimpinan Lion Group, Pimpinan Garuda Group, PT. BAT (Batam Aero Teknik), serta Pimpinan BP Batam.

Sumber: ekon.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *