Sen. Jan 17th, 2022

WARTAKADIN

Kabupaten Bekasi

Pengusaha Mebel Di Jepara Banting Stir, Atau Jual Lewat Online

2 min read

Jepara, wartakadin. Pengusaha Mebel di Jepara saat ini sedang kebingungan mencari usaha lain agar bisa cepat menghasilkan income keluarga untuk makan sehari-harinya.

Karena mebel saat ini dalam musim Pandemi Covid -19, bukan lagi menjadi kebutuhan hidup. Masyarakat lebih mementingkan kebutuhan perut. Sedangkan kebutuhan assesoris seperti mebel bersifat kebutuhan yang tidak penting (urgen). Atau suatu kebutuhan bersifat pelengkap saja.

Hal ini seperti disampaikan oleh pengusaha mebel Jepara bernama Eko Haryanto juga menjadi ketua Kadin UMKM Kab. Jepara saat ditemui wartakadin.com yang mengeluhkan tentang usaha mebel yang sudah enam bulan ini terpaksa dihentikan karena merugi.

Ada beberapa faktor penyebab terjadinya kelesuan mebeler Jepara. Antara lain, karena adanya Pandemi Covid -19 yang berdampak terjadinya kelesuan ekonomi dan usaha. “Bahan baku sudah dirasakan semakin mahal. Contoh untuk membuat meja kursi dari kayu jati senilai Rp 15 juta, bahan baku dan tenaga justru lebih dari Rp 15 juta,” ungkapnya.

Juga katakan, disisi lain karena kalah bersaing dengan PMA. Yakni orang asing yang sudah mendirikan usaha mebel di Jepara yang sudah memiliki pasar di negara asal maupun di luar negeri. “Selain itu, Pemodal Asing itu sudah mampu membangun industri mebel dari hulu sampai hilir yang menang modal dan market,” tambahnya.

“Sementara pengusaha pribumi baru bisa menjual hasil produknya di lokalan, atau di luar Jawa saja. Mereka belum bisa menembus ke pasar luar negeri,” jelas Eko.

Saat ini, mereka tidak bisa berbuat banyak. Atau mau mengadu kepada siapa. Sementara setiap hari harus menghidupi keluarga, mau tidak mau akhirnya mereka mengambil langkah “banting stir” tinggalkan mebel; yang berganti usaha lain seperti jual elpiji gas 3 kg dan jual kelapa yang dibutuhkan banyak orang dan hariannya bisa mendapatkan untung. Demikian tutur Eko.

Jual lewat Tokopedia

Soleh, pengusaha mebel Tahunan Jepara dalam menyikapi masa Pandemi Covid -19 dengan jual produk mebelnya melalui Tokopedia. Yakni dengan memberdayakan anak lelaki lulusan Tzanawiah yang pegang HP android untuk menawarkan mebel Soleh lewat jalur online.

Diakui Soleh, dalam menjalankan usaha mebel tidak pernah membuat laporan pembukuan. Hingga waktu ditanya berapa omzet per bulannya, Soleh tak bisa menjawab. Karena yang biasa dilakukan buat mebel dan laku dijual hingga berjalan dari tahun ke tahun tidak bisa ketahui perkembangan usaha sampai dimana.

Juga dalam pelestarian usaha mebel ukir Jepara saat ini hadapi kendala kurangnya tenaga ahli. Seperti yang dikeluhkan Soleh, tidak ada generasi penerusnya.

“Anak-anak muda lebih memilih bekerja di pabrik, dari pada meneruskan usaha orang tuanya,” tutur Soleh yang ditemui wartakadin di tempat produksi.

Usaha promosi lewat pameran tingkat provinsi, kata Soleh hanya pengusaha tertentu yang sudah memiliki link di Perbankan. Atau mereka yang sudah tergabung dalam Klaster mebel Jepara.

Harapannya kepada Pemerintah, kiranya perlu ada kebijakan untuk mengangkat kembali keberadaan mebel Jepara dengan program pelestarian dan penyiapan Generus Penerus melalui pelatihan dan managemen usaha bidang mebeler. Sriyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *