Rab. Sep 29th, 2021

WARTAKADIN

Kabupaten Bekasi

Wisata Tubing Bumi Parikesit Desa Blimbing Sebelum Covid -19 Hasilkan Income Desa Rp 19 Juta Per Tahun

2 min read

Kendal, wartakadin. Mandi di sungai bumi Parikesit Desa Blimbing rasanya segerrr. Soalnya air sungai cukup bersih. Sumber mata air berasal dari atas, yakni dari lereng gunung Ungaran yang mengalir dari desa Pagertoyo Limbangan hingga ke wilayah Boja dan Kaluwungu Selatan.

Sungai yang melintas di desa Blimbing Kecamatan Boja Kabupaten Kendal Jawa Tengah, sepanjang 450 meter oleh Kepala Desa Blimbing Sutrisno disampaikan bahwa keberadaan sungai di wilayah desanya ini untuk mengairi sawah lima desa. Yakni : desa Blimbing, desa Bebengan, desa Boja, desa Kedungsari dan desa Merbuh.

Saat ini oleh Kades Sutrisno disampaikan sedang menunggu bantuan dana dari Kementerian PUPR senilai Rp 3,6 miliar hasil dari perjuangannya selama ini.

“Karena melihat kondisi bangunan talud sungai dan upaya untuk menambah kedalaman sungai butuh dana yang tidak sedikit,” ungkapnya.

“Talud sungai perlu penguatan untuk menghindari gerusan air sungai yang memiliki debit air yang mengairi sawah 105 hektar. Padahal debit air sungai bisa berkapasitas mengairi sawah seluas 306 hektar,” Sutrisno menambahkan.

Sungai yang melintas di bumi Parikesit desa Blimbing itu oleh Pemerintah Desa Blimbing telah dijadikan wisata desa yang diberi nama “Tubing Blimbing Parikesit” tutur Kades Blimbing Sutrisno kepada wartakadin.com saat ditemui di rumah kediamannya.

Konon sejarahnya, berdasarkan prasasti di bendungan sungai desa Blimbing itu, bahwa sungai itu dibangun oleh Belanda pada tahun 1918 selama dua tahun.

Ternyata Belanda di Indonesia tidak hanya menjajah tetapi membangun pertanian pribumi, contohnya di wilayah kecamatan Boja telah membangun irigasi dari desa Blimbing hingga di desa Kedung Pengilon pada tahun 1942. Selang tiga tahun sebelum Indonesia Merdeka.

Hasil dari persewaan ban dan kamar mandi untuk bilasan bagi yang sudah mandi di sungai itu sebelum adanya Covid -19 telah menghasilkan income desa tiap tahun rata-rata mencapai Rp 19 juta.

Dan diceritakan, sepanjang sungai itu dipadati para pemandi yang terlihat aman aman saja. “Tetapi semenjak adanya Covid -19 para pemandi sungai bisa dihitung dengan jari saja,” pungkasnya. (Sriyanto)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru